Tanda Hitam di Jidat

jidat

Hari Rabu tanggal 28 Oktober saya menemani ibu pergi ke kawinan saudara sepupu dari pihak ibu, di Landmark jalan braga Bandung. Wah, sudah lama saya tidak pernah hadir dalam suatu perayaan, mungkin sudah hampir 4 tahun saya tidak pernah hadir di acara kawinan atau ulang tahun saudara.

Pakaian yang saya kenakan adalah baju muslim dan memang saya sering memakai baju koko bila berpergian ke suatu acara namun diluar acara kawinan atau ulang tahun saudara.

Sesampai di acara tersebut, yah seperti biasa mereka menyapa ibu dan bersikap dingin terhadap saya, saya acuh saja karena saya pikir tidak ada urusan dengan sikap mereka dan sayapun tidak bergantung mereka.

Kemudian ada salah seorang saudara tiba tiba menyapa dan bertanya lantang didepan saudara saudara yang lain.

Si A   : “Apa kabar ? Kenapa jidat nya ?”

Chia  : “Engga,… “  –  dan belum sempat saya menarik nafas dia langsung menyambung perkataannya tadi…

Si A   : “Kok hitam begitu ?”  – kemudian saudara yang lain memotong… dan ikut berkomentar…

Si B    : “Itu kali sembayang sampai jedor jedor kepala ke lantai !”

Chia  : ( dalam hati saya : ah lebih baik diam saja dan tersenyum saja lah, beres urusan )

Si C    : “Bukan itu di tandai oleh Tuhan karena banyak dosa !”  – potong saudara perempuan saya yang cukup dekat hubungannya.

Dan mereka tertawa, sayapun ikut tertawa saja. Dalam hati saya ‘so what gitu loh’, ga penting EGP. Waktu itu ibu sedang mengobrol di meja sebelah jadi tidak memperhatikan obrolan kosong tersebut. Tak sampai 3 menit saya pamit ke toilet  dan sekembali dari toilet saya  ke meja ibu dan duduk di sebelah ibu saja ah, cari aman. Hehehe…

Bukannya saya takut … kali…. Tapi malas saja berkata kata atau mendengar banyolan mereka. Saya pikir memberi penjelasanpun tidak akan ada gunanya bagi mereka maupun diri saya.

Itu kejadian kira kira jam 19 an sebelum acara jamuan makan. Sebenarnya yang sedikit agak tidak ‘nyaman’ adalah kejadian di siang hari sewaktu makan siang di rumah. Saya bersama ibu dan bapak kemudian tidak lama kakak saya datang, karena memang kami tidak tinggal serumah. Kakak tinggal di rumahnya sendiri bersama istri dan anak anak nya.

Kakak : “Kenapa sih jidatnya makin hitam begitu ?,  kayak apa aja ! …. seperti orang singh !!!”. Katanya sambil membentak…. Tau tidak orang singh !?….

Chiahuie : ( diam saja ah , tundukan kepala aja ah… )

Saya yakin dia tahu kenapa jidat saya hitam, makanya dia tidak suka. Dan singh untuk kakak saya itu adalah sebutan untuk orang india di Singapore yang berkasta rendah atau yang biasa di hina karena mereka dianggap kaum buruh. Dan yang membuat saya tidak nyaman adalah perkataan itu di ucapkan dengan nada keras dan di hadapan ayah dan ibu.

Ya sebenarnya sakit juga sih hati karena ini sudah ke 3 kali dia mengomentari masalah jidat ini. Tapi ah biar saja, saya tidak mau mengotori hati takut nanti jauh sama Allah Swt. Apapun saya terima asal jangan sampai jauh hati dan pikiran ini dari Allah Swt. Takut sekali kalau tahajud dan Allah terasa jauh, saya benar benar takut sekali.

Semenjak saya tahajud selain 5 waktu memang jidat saya ada tanda hitam, alhamdulillah dari bulan puasa kemarin sampai tadi malam, Allah Swt menjaga shalat malam saya. Karena penasaran saya cari tahu di forum Islam, forum di website NU dan lainnya. Ada beberapa pendapat berkaitan dengan jidat hitam yakni :

  1. Ria dan ingin pamer. – menurut saya itu tidak sepenuhnya benar apa pernah menanyakan kepada yang berjidat hitam hal tersebut.
  2. Cara sujud yang salah karena ketiak tidak dibuka lebar – saya selalu berusaha dan belajar untuk melakukan gerakan shalat sebaik mungkin, jadi kurang tepat rasanya.
  3. Sengaja menekan nekan kepala ketika sujud – saya pikir itu tidak ada gunanya untuk dilakukan, tidak benar juga pendapat ini.
  4. Jumlah shalat yang banyak – mungkin benar mungkin tidak karena setiap orang yang ada tanda hitam di jidat belum tentu memiliki jumlah shalat yang lebih banyak dari yang jidat nya tidak bertanda hitam.
  5. Ketebalan kulit pada jidat – mungkin ada benarnya, jadi untuk kulit tipis dengan kulit yang tebal akan berbeda bagi yang banyak sujud atau sujud yang panjang dengan yang sedikit sujud. Saya coba bandingkan dengan kulit pada sikut kita. Mungkin proses nya mirip.

Sebenarnya yang di permasalahkan dalam forum forum tersebut adalah apakah yang bertanda hitam di jidat menandakan ketakwaan seseorang ?. Menurut saya tanda itu tidak memiliki hubungan dengan ketakwaan seseorang atau menadakan dia seorang ahli shalat. Karena yang memiliki ukuran dan timbangan ketakwaan bukanlah manusia tetapi Allah Yang Maha Kuasa.

 Ada kenalan saya seorang haji bergelar insinyur (intelektual baik), menurut kacamata saya dia orang yang soleh begitu pula istrinya. Shalat 5 waktu itu pasti dan shalat malam tidak ketinggalan. Suami istri itu memiliki tanda hitam di dahi bahkan jauh lebih pekat dari tanda pada dahi saya yang samar samar.

Bagi saya pribadi tanda hitam di jidat mau tambah hitam atau hilang saya tidak peduli, bilamana saya di kata katai dan sebagainya saya juga tidak ambil pusing, yang pasti saya akan tetap membawa Panji Allah, tetap berpakaian muslim ke pesta atau acara saudara dan berjalan tegak ditengah mereka mereka yang berseberangan dengan jalan indah yang saya tempuh yaitu sebagai muslim.

Bukan bermaksud pamer, sombong atau menantang tapi karena saya bangga punya Allah Swt. dan saya bangga sebagai hamba Nya. Tiada Tuhan melainkan ALLAH.

Saya tadi malam seusai tahajud, saya tertawa bersama Allah Swt., …. Ya Allah… Ya Allah….. pikir pikir lucu juga mereka semua, hal begitu dijadikan suatu bahasan seruu lagi. Bolak balik, sana situ, utara selatan, teruus mbulet……  Coba saja surfing di google “Tanda hitam di JIDAT” , dan coba lihat ada berapa banyak website yang kita temukan berkaitan dengan itu.

Ya Allah, Engkau memang Maha Pencipta……

Alahuakbar Ya Allah…..  Allahuakbar…… Allahuakbaar !

Iklan

12 Komentar

  1. siaw ling said,

    7 November 2009 pada 02:36

    wah kalau ini no coment karena memang gak tau mungkin bergesekan dengan sejadah setiap saat

  2. kchihui said,

    7 November 2009 pada 02:37

    Iya sih kaya nya memang begitu….

  3. praboto said,

    28 November 2009 pada 15:09

    Dulu saya juga penasaran, kenapa ya bisa hitam ? sempat juga berpikir negatif, ah paling itu di warnai hitam biar keliatan rajin sholat. tetapi ternyata benar benar hitam sendiri !
    Saya jadi minder kalo dekat dengan mereka. Rasanya seperti ditelanjangi. ketahuan kalo sholatnya masih bolong, ketahuan kalo masih banyak bikin dosa..
    Mas Chia, sampeyan sungguh beruntung kalo bisa mempunyai tanda hitam di dahi…

    • kchihui said,

      29 November 2009 pada 20:46

      Alhamdulillah , makasih mas

  4. mulyadi said,

    26 Maret 2010 pada 01:50

    “…Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. PADA WAJAH MEREKA TAMPAK TANDA-TANDA BEKAS SUJUD. Demikianlah sifat-sifat mereka….”
    ( Al Fath : 29 )

    Jangan terlalu dipikirin, akh!
    it’s ok.

    • kchihui said,

      24 April 2010 pada 18:56

      siap, terima kasih mas

    • imamgoblog said,

      21 Juni 2010 pada 14:51

      Sujud itu praktiknya memang demikian nungging dengan tujuh anggota badan menempel di lantai yakni 2 jari kaki, dua lutut, dua telapak tangan dan satu kepala; tetapi hakikat sujud itu adalah patuh terhadap ajarran Allah SWT. yang mana orang yang tunduk patuh terhadap ajaran Allah SWT itu tandanya bukan di jidat tetapi dari sudut pandang (wajah) dan sikapnya terhadap ajaran Allah. dan bukan Jidat hitam. Seperti halnya pada orang yang Shaum, tandanya orang yang shaum itu bukan perutnya yang kempes tapi lebih kepada kesabaran dan ketaqwaannya.

      • kchihui said,

        21 Juni 2010 pada 18:44

        Amin Ya Rabb. Terima kasih banyak buat koment nya yang sangat informatif dan saya pahami. Wass.

  5. yuliani said,

    12 Mei 2010 pada 11:55

    hebat, saya justru salut sama anda

    • kchihui said,

      12 Mei 2010 pada 17:17

      terima kasih ya. semua juga hanya karena Allah Swt semata. Amin Ya Rabb

  6. eha yuliani said,

    2 Juli 2010 pada 16:13

    bukan kuantitas tapi kualitas, itulah yang di maksud ibadah pada Allah. siapapun bisa shalat sunah dng jmlah rukuk yang banyak, termasuk anak kecil. dan tidak sedikit juga yang banyak shalat kenyataan banyak pula yang jauh dari akhlak terpuji. intinya. ketergantungan jiwa&raga karena ada cinta dalam hatinya. berusaha hadirkan Dia dalam hati saat berbuat baik/ibadah, rasa sesal saat berbuat dosa, dan segera kembali pada kebenaranNya, walau dia tidak termasuk orang yang banyak shalat. tanda itu hanya sebagian kecil kebesaran Allah untuk orang2 yang Dia kehendaki. orang yang terpedaya akan menjadi ria, orang yang sadar akan semakin merasa rendah dan merasa tak pantas jika tersebut orang yang takwa, sehingga termotivasi untuk memperbaiki ibadahnya pada SAsang Pencipta.

  7. Andi nursyamsi said,

    20 Agustus 2010 pada 01:56

    yg sbr saudara kita senasib,,,cara diam mmang pling bner dlm mengalihkan olokan orang2 skitar ato kita ikuti aj guyon yg mereka utarakn,Insya Allah bsa jd obt Hati buat kita,,,moga kita semua tetap dlm lindungan Allah SWT,,,,Amin…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: