JODOH DAN CERMIN

Pasangan adalah bagai sebuah cermin bagi kita, jika ia marah maka itulah yang kita tunjukan, bila ia lembut maka itu yang kita lakukan, bila ia tersenyum maka itulah yang kita berikan, bila sedih maka itulah yang kita rasakan, bila ia tertawa bahagia maka itulah yang kita usahakan, dan bila ia termenung sendu maka itulah yang kita resahkan.

Maka, berlaku baiklah dihadapan cermin itu, tersenyum, tertawa riang, lembut hati, selalu merindukannya dan berjanjilah untuk selalu menjaga hatinya. Maka itulah yang akan kita lihat pada cermin kita ….

Pernah suatu malam ada yang bertanya pada saya, seperti apa jodoh saya? Saya katakan padanya bahwa jodoh kita adalah sama seperti halnya diri kita. Siapapun yang menjadi pasangan hidup kita merupakan cermin yang ada pada diri kita. Jika kita memilih berdasarkan pertimbangan rasa, ketemu pada medan perjuangan maka pasangan hidup yang kita dapatkan juga orang yang memiliki karakter yang sama. Namun jika kita memilih berdasarkan pertimbangan logika semata yang kita dapatkan juga seperti yang kita kehendaki.

Ketika cinta harus memilih, ada peranan rasa dan ada peranan logika. Perasaan cocok sering lebih “benar” dibanding pertimbangan “ilmiah”. Jika seorang wanita dalam pertemuan awal dengan seorang lelaki langsung merasa bahwa lelaki itu terasa “sreg” untuk menjadi suami, meski ia belum mengetahui secara detail siapa identitas si lelaki itu, biasanya faktor perasaan sreg itu akan menjadi faktor dominan dalam mempertimbangkan.

Sudah barang tentu ada orang yang tertipu oleh hallo efec, yakni langsung tertarik oleh penampilan, padahal sebenarnya penampilan palsu. Sementara itu argumen raasional berdasar data lengkap tentang berbagai segi dari karakteristik lelaki atau perempuan, mungkin dapat memuaskan logika, tetapi mungkin terasa kering, karena pernikahan bukan semata masalah logika, tetapi justeru lebih merupakan masalah perasaan.

Ada pasangan suami isteri yang dari segi infrastruktur logis (misalnya keduanya ganteng dan cantik, usia sebaya, rumah tempat tinggalnya bagus, penghasilan mencukupi, kelengkapan hidup lengkap) mestinya bahagia, tetapi pasangan itu justru melewati hari-harinya dengan suasana kering dan membosankan, karena hubunganya lebih bersifat formal dibanding rasa.

Perasaan sreg dan cocok akan dapat mendistorsi berbagai kekurangan, sehingga meski mereka hidup dalam kesahajaan, tetapi mereka kaya dengan perasaan, sehingga mereka dapat merasa ramai dalam keberduaan, merasa meriah dalam kesunyian malam, merasa ringan dalam memikul beban, merasa sebentar dalam mengarungi perjalanan panjang. Mereka sudah melewati usia 40 tahun perkawinan, tetapi serasa masih pengantin baru.

sumber : Uts. Abdul Aziz Setiawan

Iklan

2 Komentar

  1. kopiko ... said,

    9 Juni 2010 pada 00:58

    assalamualaikum ….
    ” Jika seorang wanita dalam pertemuan awal dengan seorang lelaki langsung merasa bahwa lelaki itu terasa “sreg” untuk menjadi suami, meski ia belum mengetahui secara detail siapa identitas si lelaki itu, biasanya faktor perasaan sreg itu akan menjadi faktor dominan dalam mempertimbangkan. ”
    bener bgd , krna aku juga mengalaminya .. banyak hal yg d pertimbangkan olehku ..
    seperti saat ini , aku yang kehilangan org yg bener” bisa membuat hidup lebih berarti ..
    setiap aku mau melakukan sesuatu untuk mempertahankan atau bisa bertemu dengannya walaupun hanya sebentar , selalu dan terlalu banyak yang aku pertimbangkan ..
    aku ga maw membuat malu , atau merugikan dia dengan egoku yang hanya ingin bertemu dengannya ..
    padahal niatku hanya ingin memperjuangkan orang yang aku sayang ,,
    dia pernah bercerita , bahwa pernah suatu saat dia ingin mengakhiri hidupnya karna ga sanggup menahan sakit ..
    itupun terlintas di fikiranku , tapi aku hanya bisa melukai tanganku dengan sebuah silet ..
    dia juga pernah mengatakan , bahwa dia tidak mau mengalami kegagalan lagi .. mungkin karna dia tau , bagaimana rasanya di sakiti …
    begitupun dengan aku , aku juga ga maw jatuh di lubang yang sama .. di bilang trauma oleh laki laki … ya !! aku trauma ..
    aku cuman berfikir , tujuan kita sama .. tapi kenapa begini !! kenapa saling menyakiti ..
    mungkin krna aku yang ke anak”an .. yang tidak mengerti kondisi dia ..
    tapi aku juga perlu proses , aku juga butuh waktu untuk memahami situasi dan keadaan ..
    aku di beri saran oleh sodaraku , bahwa aku harus puasa dan sholat istiqaroh ..
    lebih baik sholat d jalankan pada malam jumat atau hari jumat ..
    minta petunjuk ALLAH lewat mimpi , apakah dia jodohku atau bukan ,,
    dan nanti saudaraku yang akan memberi tahu arti mimpi aku ..
    apapun kenyataan dan hasilnya akan aku terima dengan lapang dada .. tapi satu tujuan aku ! jodoh atau tidak jodohnya , aku hanya meminta pada ALLAH .. pertemukan aku dengannnya , walaupun hanya sebentar ..
    kalau jodoh , sampai kapanpun akan aku perjuangkan ,, ga perduli apa kata orang lain .. ga perduli keadaan dia maw seperti apa .. INSYA ALLAH aku bisa terima dia apa adanya , karna aku yakin , sesuatu yang indah akan datang pada saatnya ..
    walaupun tidak jodoh , aku tetap memohon untuk di pertemukan .. dan aku hanya meminta kepastian .. hidupku bukan mainan , jd jangan menggantungkan hidup dan perasaanku ..
    sesakit apapun aku terima , dari pada sekarang hidup tanpa suatu kepastian ….

    kepanjangan ya commentnya , maaf ya bang
    wassalam ..

    • kchihui said,

      12 Juni 2010 pada 06:31

      Tidak apa apa. Terima kasih buat koment nya. Wass


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: